Ketua HNSI Menolak Isu Pungli Nelayan

KORANFAKTA.NET, GRESIK – Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gresik, diterpa isu kurang sedap. Organisasi nelayan ini dikabarkan memungut anggotanya penerima bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang digelontor ke nelayan pada November dan Desember 2016 lalu.

Namun isu dugaan pungutan ini dibantah keras oleh Ketua HNSI Gresik Samaun, Selasa (17/1/2017) sore di kantor HNSI Gresik.

 Inilah jaring bantuan KKP untuk nelayan Gresik.

Inilah jaring bantuan KKP untuk nelayan Gresik.

Kepada media ini Samaun menjelaskan bahwa bantuan dari KKP tidak semua lewat HNSI dan bantuan yang disalurkan langsung HNSI juga tidak ada pungutan sepeserpun pun kepada nelayan. Pungutan iuran wajib anggota saja tidak ditarik apa lagi pungutan yang berkaitan dengan bantuan.

“Ada 3 bantuan yang turun hampir bersamaan yaitu bantuan mesin, jaring dan alat keselamatan nelayan,” ujar Samaun

Bantuan yang melalui HNSI dan telah disalurkan ke anggota tanpa syarat biaya apapun adalah alat keselamatan nelayan. Alat keselamatan nelayan ini berisi pelampung, kacamata, sepatu dan lainnya (1set). Jumlah alat tersebut seluruhnya 500 paket dan bukan 3.000 paket seperti yang kabar yang beredar itu.

“Hanya alat kemanan nelayan-lah yang lewat HNSI. Dam sudah tersalur,” tegasnya.

Bantuan lain berupa mesin sebanyak 900 unit, sambung Samaun, diserahkan oleh Hj Eni anggota DPR RI Dapil Gresik – Lamongan melalui rukun nelayan. Tidak melalui HNSI. Yang mendustribusikan mesin ini ke anggota adalah rukun nelayan masing-masing desa. Tapi ketika di rukun nelayan ini ada nenarik pungutan ke anggotanya maka itu internal mereka dan bukan kewenangan HNSI.

Begitu pula bantuan jaring, langsung melalui DKP Pemkab Gresik dan diserahkan langsung ke pengurus RN.

“Jadi isu ada penarikan biaya ke nelayan yg dilakukan HNSI Gresik, sangat keluri. Tapi kalau di kelompok masing-masing nelayan itu urusam mereka,” tegas Samaun lagi.

Tentang adanya mesin yang dikembalikan dari nelayan Lumpur, diakui Samaun itu benar. Pasalnya, mesin tersebut yang menggunakan BBM premium sedangkan nelayan Lumpur tidak berhak menerima karena mereka memakai nesin BBM solar. Sehingga mesin tersebut dialihkan ke lain. (Muh)