Jauh Dari Merdeka, Ngadi Tinggal Digubuk Reot

Laporan Muhammad Isman dari Gresik Jawa Timur

KORANFAKTA.NET GRESIK – Ternyata, tinggal di daerah yang memiliki potensi kaya raya, tak menjamin bisa hidup mapan dan jauh dari kata miskin.

Buktinya, Kabupaten Gresik yang selalu disebut-sebut sebagai daerah seribu industri dan memiliki potensi daerah yang jauh lebih makmur dibanding daerah lain di Jawa Timur, ternyata masih ada penduduknya yang hidupnya jauh dari merdeka dan di bawah garis kemiskinan.

daerah-kaya-tapi-warganya-tinggal-digubuk-reot1Ialah Ngadi, warga Dusun Sawahan, Desa Kedan Kulur, Kecamatan Cerme, Gresik, ternyata kehidupannya jauh di bawah garis kemiskinan. Bersama istrinya bernama Siti Khomsah dan kedua putranya, dia tinggal di sebuah gubuk berukuran 4×3 meter persegi tak ubahnya kandang hewan ternak.

Gubuk derita pria berusia 50 tahun ini berada di ujung Rt.3 Rw.8 tak jauh dari persawahan. Sementara tetangga-tetangganya kehidupannya, boleh dibilang masih berkelebihan. Rumah layak huni dan memiliki laham pertanian yang cukup. Sebaliknya, Ngadi yang juga kelahiran asli di desa tersebut, hanya seorang pekerja kulih sawah dengan penggasilan tak menentu.

Kedua anaknya, kini tumbuh besar. Namun karena keterbatasan ekonomi, anak Ngadi ini hanya bisa mengecap bangku sekolah di tingkat SMP saja. Pasalnya, alih-alih untuk membiayai anak masuk sekolah, kebutuhan sehari-hari saja, harus banting tulang mandi keringat.

Koranfakta.net  berkesempatan berkunjung ke gubuk derita Ngadi, saat itu suami Siti Khomsah tengah duduk santai di depan gubuknya bersama kedua putranya dam seorang wanita paruh baya yang kebetulan berkunjung kesana.

Sambil tersenyum, Ngadi bersama putranya dan wanita si tetangganya tersebut langsung berdiri menyambut awak media ini tiba di gubuk yang hanya ditutupi dengan dinding anyaman bambu dan berlantai tanah.

Yang menaruh ibah dibalik kehidupan Ngadi bersama keluarganya ini, tudak saja lantaran dia tinggal digubuk reot. Bukan pula karena sehari-hari dia harus memikul air dari waduk yang jaraknya berkilo-kilo dari gubuknya. Tetapi membuat miris, karena sang istri Ngadi, Siti Khomsah (45) ini ternyata kini tinggal dibalik jeruji rumah tahanan Banjarsari, Cerme, Gresik. Siti Khomsah ditangkap polisi Polsek Cerme dan sudah tiga kali menjalani sidang di Pengadilan Negeri Gresik.

“Istri saya ini, ditangkap polisi karena dia terhutang ke rentenir. Belum sempat kami lunasi, sudah terlanjur ditangkap dan diadili di pengadilan,” ujar Ngadi.

Apa yang dialami istri Ngadi ini, sepertinya tak adil. Bagaimana tidak, Siti Khomsah ini meminjam uang ke seorang rentenir bernama Siani. Rentenir ini satu desa dengan Khomsah. “Utangnya itu cuma Rp 1 juta. Tapi harus dikembalikan ke Siani senilai Rp 1,5 juta,” jelas Ngadi.

Sebelum ditangani polisi dan ditahan di rutan, sebenarnya Khomsah pernah menyerahkan uang ke Siani senilai Rp 500 ribu untuk membayar dan sisanya sedang dicarikan. Namun, Siani menolak alasannya minta di chas.

Lantaran Khomsah bersama suamiyta hidup pas-pasan, dia belum bisa melunasi pinjamannya
itu dengan tunai. Lagi pula, uang yang dipinjam senilai Rl 1 juta tersebut, dia cicil seminggu sekali Rp 150 ribu selama jangka waktu 10 minggu.

Yang jadi pertanyaan, Khomsah mesti harus diseret ke pengadilan dan diadili secara pidana hanya persoalan utang piutang senilai Rp 1 juta. Lantas, utang belum bisa dilunasi lantaran kondusi ekonomi yang memang jauh dari pas-pasan. (abud)