Home Nasional Pertagas Diminta Tak Tutup Mata Soal Galian

Pertagas Diminta Tak Tutup Mata Soal Galian

300
0
SHARE

KORANFAKTA.NET, GRESIK – Uang kompensasi yang di kantongi warga, terkait keberadaan proyek penanaman pipa gas, ternyata tidak mampu membungkam ocehan warga Desa Prambangan dan Desa Kedanyang, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur.

Buktinya, mereka masih terus memprotes kinerja kontraktor yang ditengarai menguruk bekas galian penanaman pipa di tengah jalan raya, asal-asalan. Bahkan kualitasnya, diragukan.

Protes warga ini memang tidak dilakukan melalui aksi, turun di jalan. Meski demikian, PT Pertagas pemilik proyek, didesak memperbaiki kualitas urukan bekas galian menggunakan tanah sirtu dan bukan tanah biasa yang kulitasnya rendah.

Hal ini dikemukakan warga dari dua desa tersebut, menyusul ulah pihak kontraktor menguruk bekas galian, hanya menggunakan tanah biasa. Padahal, idealnya diuruk dengan tanah sirtu sehingga, tidak amblas.

“Sepanjang galian ini, hanya diuruk dengan tanah. Mestinya, sirtu supaya kualitas jalan sama seperti semula,” ujar sejumlah warga Kedanyang dan Prambangan kepada awak media, Kamis (19/10).

Beberapa warga sempat mendatangi proyek itu, dan mempertanyakan langsung atas kualitas tanah yang digunakan menguruk bekas galian. Namun, pekerja proyek tersebut, mengaku tidak tahu, alasannya mereka hanya bekerja sesuai perintah. Urusan material pihak kontraktor.

“Kami sangat kecewa dengan pihak kontraktor yang menguruk bekas galian di tengah jalan hanya menggunakan tanah biasa. Kualitasnya rendah lagi,” celutuh Adi, warga desa setempat.

Bukan hanya itu, yang disoroti mereka. Kedalaman galian juga seyogyanya lebih dari 2,5 meter. Tapi, faktanya warga menduga hanya satu hingga 1,5 meter saja. Karena itu, sangat riskan terjadi kebocoran ketika ada getaran perbaikan jalan atau aktifitas alat berat, dikemudian hari.

“Ini proyek gas loh. Pipanya itu tidak boleh sembarang pasang. Kedalamannya harus 2,5 hingga tiga meter. Kalau terjadi kebocoran, siapa yang tanggung jawab. Kan pasti banyak alasan segala oleh pihak perusahaan,” tandas Agus lagi.

Bukan hanya persoalan timbunan.Warga juga mendesak agar proyek ini segera dirampungkan, sehingga tidak mengganggu ketertiban umum dan aktifitas masyarakat. Terlebih, jalan ditutup dari arus lalu lintas.

Sementara itu, Kepala Desa Prambangan, Fariantono yang ditemui tentang hal ini, ia mengatakan pihaknya memang mendengar jika urukan yang digunakan menutup bekas galian bukan sirtu. Begitu juga kedalaman galian kurang dari standar yang ditentukan.

“Infonya sih begitu. Tapi kami dari Pemdes setempat belum bisa memastikan hal itu. Ini baru mau kita koordinasikan dengan pemborongnya, apa betul atau bagaimana,” katanya.

Bicara soal jalan raya yang baru 1,5 tahun mulus dengan aspal. Dan kini aspalnya dibongkar akibat proyek pipa gas. Memang harus diuruk dengan sirtu. Sehingga kondisi jalan kuat. Sebab dikhawatirkan, saat dilintasi mobik bekas galian tersebut amblas.

“Minimal harus sama kualitasnya sebelum di bongkar. Apa lagi jalan ini baru dibangun. Jangan sampai rusak kembali,” timpal Samudra, warga Kedanyang.

Sementara pihak kontraktor, hingga berita ini turun belum bisa dikonfirmasi. Alasan pekerjanya, bos tidak ada ditempat proyek. (TRY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen − thirteen =