Konsumsi Sayur Mentah Bisa Turunkan Kadar Gula Darah

JAKARTA – Selama ini, pengobatan diabetes tipe 2 dilakukan dengan menyuntikkan atau mengonsumsi insulin untuk menekan kadar gula.

”Insulin seperti pemadam kebakaran. Jika kita tidak menciptakan api, tidak perlu ada pemadam kebakaran. Api dalam hal ini adalah kadar gula yang dijaga dengan diet sayur. Mengonsumsi 740 gram sayuran mentah per hari membantu menurunkan kadar gula darah dan meringankan penyakit diabetes melitus tipe 2.” kata dokter ahli gizi Tan Shot Yen seusai sidang promosi doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Selasa (4/3), di Jakarta.

Ilustrasi Sayur mentah
Ilustrasi Sayur mentah

Dengan disertasi ”Model Pemberdayaan terhadap Penyandang Dewasa Diabetes Tipe 2 untuk Meningkatkan Asupan Sayur dalam Mencapai Kontrol Glikemik”, Tan Shot Yen lulus dengan IPK 3,72.

Bertindak sebagai promotor adalah Guru Besar FKUI Endang Sri Murtiningsih Basuki serta sebagai ko-promotor adalah Widjaja Lukito dari Bagian Gizi FKUI dan Guru Besar Farmakologi FKUI Rianto Setiabudy.

Yen mengatakan, masyarakat Indonesia rata-rata mengonsumsi 400 gram sayuran sehari. Namun, sayuran itu sudah dimasak sehingga kualitas nutrisinya turun. Pasien diabetes tipe 2 seyogianya menghitung jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari, lalu merencanakan jumlah asupan karbohidrat, protein, dan sayuran yang akan dikonsumsi. Sayuran sudah mengandung karbohidrat sehingga porsi nasi, roti, atau mi bisa dikurangi.

Dalam penelitian, Yen membagi penderita diabetes tipe 2 menjadi dua kelompok, intervensi dan kontrol, yang menjalani diet selama 12 minggu. Kelompok kontrol berkonsultasi dengan dokter secara konvensional. Dokter hanya meminta mereka mengonsumsi obat dan sayuran. Pasien mengonsumsi sayuran yang dimasak, misalnya ditumis atau disayur. Hasilnya, kondisi kesehatan kelompok kontrol tidak ada perubahan signifikan.

Pada kelompok intervensi, dokter berperan sebagai pembimbing yang mengontrol diet pasien melalui catatan harian. Dokter mengingatkan pasien agar mengonsumsi sayuran mentah, misalnya sebagai urap, lalap, atau salad. Dokter juga memberi semangat ke pasien dan siap berdialog setiap hari.

Hasilnya, lingkar pinggang kelompok intervensi mengecil 3,1 sentimeter, kadar hemoglobin terglikasi berkurang 3,1 persen. Lingkar pinggang kelompok kontrol berkurang 1,1 sentimeter dan homoglobin terglikasi menurun 2,3 persen.

Cara dokter membina kelompok intervensi membuat pasien berpikiran positif dan bersemangat. Pasien memperbaiki gaya hidup, bahkan mengurangi asupan obat dan insulin. ”Penelitian ini menempatkan pasien sebagai subyek. Mereka harus paham kondisi tubuh mereka dan memiliki target untuk sembuh dan hidup sehat,” kata Yen.

Dalam kesempatan itu, Endang memuji penelitian Tan Shot Yen yang dinilai mengembalikan semangat dokter sebagai penyembuh. Dalam hal ini, dokter tidak sekadar memberi obat, tetapi membimbing pasien untuk bersama-sama mencapai kesehatan maksimal. (A15/print.kompas)