Restoran Rawan Gunakan Bahan Haram

Keberadaan beragam restoran dengan varian sajian menu, tak boleh membuat konsumen Muslim lengah. Sudah rahasia umum, tak sedikit pengusaha kuliner itu enggan melakukan sertifikasi halal usaha mereka.

Halal /Ilustrasi
Halal /Ilustrasi

Anggota Dewan Pembina LPPOM MUI Chilwan Panji memaparkan, terdapat restoran dengan menu makanan Cina yang diragukan kehalalannya. Terutama, penggunaan angciu atau arak merah.  Bahkan, tak segan memakai minyak babi. Minyak tersebut dianggap favorit, di samping murah, juga terkenal lezat dibandingkan bumbu lainnya.

Selain itu, ujar Panji, perhatikan pula daging yang dipergunakan. Ada saja pengusaha kuliner nakal yang menggunakan babi sebab harganya lebih miring. Ada juga penggunaan kecap khusus yang difermentasi. Kondisi ini menempatkan restoran-restoran itu enggan bersertifikat. “Pemiliknya sendiri ogah tinggalkan bumbu haram itu,” katanya ketus.

Meski begitu, ia melanjutkan, sejumlah perusahaan ternama memiliki kesadaran itu. Sebut saja Hoka-Hoka Bento.
Awalnya, bisnis kuliner ala Jepang ini sulit bersertifikat halal. Tetapi, kini mereka telah mengantonginya. Ini berdampak pada pendapatan. “Omzet mereka melejit,” ujarnya.

Ada pula perusahaan kuliner ternama, Panji mengungkapkan, belum memperbarui sertifikat halal mereka yang kedaluwuarsa, seperti yang dialami Bread Talk. Perusahaan yang bergerak di bidang panganan roti ini sempat terganjal audit lantaran menggunakan gelatin atau lemak yang belum jelas status kehalalannya.

Setelah melalui proses audit, mereka dinyatakan lolos. Hanya saja, sertifikatnya belum diperpanjang hingga sekarang.

Panji mengatakan, restoran di hotel- hotel luar negeri justru ramai-ramai berlabel halal. Ini disebabkan konsumen lebih memilihnya lantaran terjamin kualitas dan bebas dari penyakit. Bukan hanya pelanggan Muslim, tetapi juga non-Muslim. Pemandangan itu, ia mengungkapkan, dibuktikan saat bertandang ke Cina. Banyak non-Muslim menyantap makanan halal.

Panji mengimbau konsumen lebih memilih restoran lokal yang bersertifikat halal. Jika ragu, bisa dicek ke MUI dan bila ternyata label halal palsu atau telah kedaluwarsa, pengusaha dapat dilaporkan kepada kepolisian.

Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI Lukmanul Hakim mengungkapkan, pihaknya telah bekerja sama dengan Dirjen Perdagangan memberi tenggat tiga bulan sejak awal puasa lalu kepada restoran franchise atau non- franchise ternama agar mengurus label halal ke MUI.
Namun, ia menerangkan, mereka tidak mengindahkan anjuran MUI. \”Mereka menunjukkan keengganan mengurus label halal ke MUI, kita beri waktu hingga akhir Oktober,” ujarnya.

LPPOM MUI menilai, ada dua hal yang membuat restoran waralaba dan non waralaba ternama enggan mengurus label halal MUI.

Pertama, karena mereka sudah yakin bila kandungan makanan di restorannya haram. Kedua, menurutnya, pihak resto ragu karena kemungkinan produk makanan mereka bercampur antara yang halal dan haram.

Lukmanul mengatakan, pihaknya sudah memberikan kelonggaran waktu kepada restoran yang belum mengurus label halal. Beberapa restoran sudah mulai mengurus label halal, kata dia, namun masih ada restoran yang tidak merespons anjuran LPPOM MUI ini. “Kami masih menunggu iktikad baik mereka.”

Ia mengingatkan bahwa label halal MUI itu penting karena bagian dari perlindungan konsumen Muslim di Indonesia. Saat ini, sudah ada beberapa restoran yang merespons positif dan beriktikad baik untuk pengurusan label halal tersebut.  “Di antaranya, Solaria, Coffee Bean, dan Baskin Robbins,” katanya. ( Amri Amrullah/Republika)