Amankah Semir Rambut Anda?

Bagi sebagian orang semir rambut digunakan untuk memperelok penampilan. Tak sedikit laki-laki atau perempuan memakai semir untuk mengubah warna uban yang tumbuh kian merata. Tetapi, Anda perlu waspadai terkait keamanan produk semir tersebut, terutama dari segi halal atau tidakkah semir yang digunakan.

natural-black-hair-productsMenurut Auditor Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Drs Chilwan Pandji Apt MSc, dalam semir rambut biasanya ada kandungan emulsifier. Emulsifier atau pengemulsi adalah zat untuk membantu menjaga kestabilan emulsi minyak dan air. Bahan zat ini ada yang berasal dari nabati dan hewani.

“Jika dari tumbuhan, tentu alami,” katanya. Namun, jika pengemulsi itu dihasilkan dari hewan, hendaknya memastikan hewan jenis apakah yang digunakan. Baik dari jenis kehalalan hewan ataukah penyembelihannya.

Semir rambut juga mengandung mikrobia dalam zat pewarnanya. Ia menyarankan agar sebelum memakai semir, memastikan terlebih dahulu keamanan dan kenyamanan produk itu dari segi syar’inya.

Pendiri Halal Courner Aisyah Maharani mengatakan hal senada. Konsumen Muslim mesti mengetahui bahan- bahan pembuat semir rambut tersebut, apakah berasal dari bahan najis atau tidak.

“Sebab, bahan itu dipenetrasikan ke rambut,” ujarnya. Sedangkan, rambut termasuk bagian yang disucikan saat berwudhu. Ia mengungkapkan, apakah semir rambut itu menghalangi air sampai ke rambut secara permanen atau tidak, juga mesti diperhatikan.

Pembahasan soal hukum syar’i semir rambut pun kembali menarik diulas. Prof Abdul Jawwad Khalaf dalam bukunya berjudul as-Syi’ru wa-Ahkamuhu fi al- Fiqh al-Islami mengulas topik ini secara mendetail.

Ia menegaskan jika warna semir yang digunakan bukan hitam, ulama sepakat hukumnya boleh. Semir itu biasanya sering dipakai untuk menutupi uban yang bermunculan di kepala.

Sedangkan, bila semir berwarna hitam, para ulama ternyata berbeda pendapat. Fakta ini, menurutnya, sekaligus menepis pandangan bahwa para ulama bersepakat semir hitam untuk rambut hukumnya haram.

Perbedaan pendapat tersebut juga berlaku bagi Muslimah. Menurut sebagian imam Mazhab Syafi ‘i, hukum semir hitam untuk rambut adalah haram.

Opsi ini merupakan pandangan Imam an-Nawawi dan al-Mawardi. Larangan tersebut berlaku baik untuk kaum laki- laki maupun perempuan.

Kalangan ini menggunakan dalil, antara lain, hadis Jabir bin Abdullah terkait kisah Abu Qahafah. Dalam hadis tersebut, Rasul memberikan izin untuk semir rambut segala warna, kecuali hitam. Mereka juga memakai dalil riwayat Ibn Abbas tentang sanksi bagi mereka yang menyemir hitam rambut.

Kelompok kedua berpandangan, hukum menyemir rambut menjadi hitam adalah makruh. Opsi ini dipilih oleh Mazhab Hanbali, sebagian ulama bermazhab Syafi ‘i, dan sebagian besar Mazhab Hanafi . Hukum yang sama juga berlaku bagi perempuan yang menyemir hitam rambut mereka. Ini ditegaskan dalam Mazhab Hanafi .

Suatu saat, Imam Ahmad pernah ditanya pendapatnya perihal semir hitam rambut bagi Muslimah. Ia menjawab, “Saya berpendapat, makruh,” katanya.

Imam Malik menegaskan, dirinya lebih cenderung memilih pendapat makruh untuk semir hitam rambut.

Sebagian kalangan pun memberikan dispensasi bila semir itu dilakukan oleh istri atas perintah dan izin suami.

Pandangan ini dirujuk oleh Ishaq bin Rahawaih dan al-Halimy.

Pendapat ketiga menyatakan, hukum semir rambut bagi perempuan boleh secara mutlak. Qadi `Iyadh menyandarkan opsi ini ke sejumlah sahabat dan tabiin. Ada beberapa sahabat dan tabiin yang melakukannya. Itu seperti yang ditempuh oleh Usman bin Affan, Hasan dan Husain, Aqbah bin Amir, Ibnu Sirin, dan Abu Burdah.

Ibnu Abi Ashim memilih opsi memperbolehkannya, seperti dalam kitabnya al-Khadhab. Ia pernah mengutip riwayat az-Zuhri yang mengisahkan bahwa para sahabat dan tabiin kerap menyemir hitam rambut mereka. [ ROL ]