Home On Islam Perang Jawa libur selama Ramadan

Perang Jawa libur selama Ramadan

603
0
SHARE

Diponegoro tak ingin menodai bulan puasa dengan peperangan. Dia giat beribadah sekaligus berolah kanuragan.”

PADA 21 Februari 1830 atau empat hari menjelang bulan puasa tiba, Pangeran Diponegoro tiba di Menoreh, pegunungan perbatasan Bagelen dan Kedu.

Kedatangannya itu berdasarkan kesepakatan yang dibuatnya bersama Jan Baptist Cleerens, pada 16 Februari 1830, di daerah Remokamal tepi kali Cincinggoling. Cleerens adalah utusan De Kock untuk menemui Diponegoro.

Lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh.(historia.co.id)
Lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh.(historia.co.id)

Kabar kedatangan Dipanegara tercium masyarakat. Meski mendapat predikat musuh Belanda nomor wahid, masyarakat masih mengelu-elukannya. Dia datang diiringi 700 prajurit. Di sana dia tinggal di sebuah rumah besar, berdinding bambu, dan beratapkan daun kelapa. Rumah singgahnya itu terletak di sebuah kawasan tanjung, di tepi Kali Progo, yang oleh masyarakat disebut daerah Metesih. “Pesanggrahan itu letaknya tepat di sebelah barat laut Wisma Keresidenan Kedu,” tulis Peter Carey dalam surelnya kepada Historia.

Di pesanggrahan ini, pengikut Diponegoro membengkak menjadi 800 orang. Sebagian besar dari mereka bersenjatakan tombak. Pasukannya sekarang tampil dalam balutan sorban dan jubah hitam, pemberian Cleerens dulu.

Setiap pagi selama bulan puasa, Diponegoro beserta 800 orang prajuritnya tetap giat berlatih olah kanuragan dan menjalankan ibadah.

Baca lanjutan artikel ini di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × one =