Enam Tahun Suramadu Bangkalan Dapat Apa?

Jembatan Suramadu. Siapa yang tidak mengenalnya? Atau anda sudah pernah melintasi jembatan terpanjang di Indonesia ini? Jembatan Suramadu membentang sepanjang 5.438 meter, membelah laut Selat Madura dan menghubungkan dua pulau, yakni pulau Jawa dari arah Surabaya dan pulau Madura dari arah Bangkalan, menjadi salah satu ikon tujuan wisatawan jika berkunjung ke Jawa Timur.

Jembatan Suramadu diresmikan awal pembangunannya oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 20 Agustus 2003 dan resmi dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009.

Mukafi Anwar, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bangkalan Madura
Mukafi Anwar, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bangkalan Madura

Pembangunan jembatan ini dimaksudkan untuk mempercepat pembangunan di Pulau Madura, meliputi infrastruktur dan ekonomi yang relatif tertinggal dibandingkan kawasan lain di Jawa Timur.

Pemerintah berharap  keberadaan jembatan Suramadu dapat meningkatkan pemerataan pendapatan di wilayah Surabaya ke wilayah Madura, begitu pula kependudukan, bisa mengurangi urbanisasi yang sebagian besar berasal dari wilayah Madura, Dengan pemerataan ekonomi akan dapat menekan laju urbanisasi.

Namun setelah 6 tahun jembatan ini beroperasi, apa yang sudah diperoleh  Bangkalan? Secara signifikan belum berdampak kesejahteraan hidup rakyat, khususnya pertumbuhan ekonomi di wilayah Kabupaten Bangkalan.

Investor maupun wisatawan lokal dan mancanegara belum menjadikan Bangkalan sebagai destinasi liburannya. Mereka  rata-rata hanya singgah beberapa jam di Bangkalan. Menikmati panorama laut, menikmati makanan khas Madura,  nasi bebek kemudian pulang.

Pemkab Bangkalan belum melakukan langkah-langkah inovatif yang bisa merangsang mereka tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di Bangkalan.

Mestinya Pemerintah Kabupaten Bangkalan harus merangsang agar mereka bisa berlama-lama di Bangkalan dan membelanjakan uangnya di Bangkalan

Jika  itu terjadi, maka perputaran ekonomi di Bangkalan akan berjalan dan berdampak positif kepada ribuan usaha kecil menengah (UKM).

Kalau mau, Bangkalan mempunyai empat potensi wisata yang bisa dikembangkan; wisata religi, wisata alam, wisata budaya, dan wisata kuliner. Wisata religi yang sudah menjad ikon Bangkalan, antara lain, Syechona Kholil, Sunan Cendana dan Air Mata Ibu

Wisata alam yang butuh terus dikembangkan adalah Pantai Rongkang, Pantai Kaki Suramadu, Siring Kemuning, Goa Pote, dan Gunung Geger dan masih banyak sederet wisata alam lainnya.

Wista budaya antara lain berbagai jenis tarian dan karapan sapi yang lebih dulu dikenal para wisatawan. Sementara pada sektor wisata kuliner kita sudah punya masakan yang sudah kesohor yakni soto, sate dan yang terkini tak kalah populernya adalah masakan bebek khas Bangkalan.

Kalau empat potensi itu dikemas ke dalam rencana induk pariwisata daerah (RIPDA)  akan menjadi potensi yang sangat luar biasa bagi daerah Bangkalan. Dampaknya pendapatan asli daerah (PAD) akan terdongkrak dan kesejahteraan masyarakat otomatis lebih baik.

Madura lebih dikenal sebagai ”Serambi Madinah” karena secara umum masyarakatnya agamis, ini seiring dengan  visi misi Bupati dan Wakil Bupati yang diuraikan dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2013 yaitu ”menyejahterakan masyarakat Bangkalan yang mandiri dan agamis.” Dan didukung Surat Keputusan Bupati Nomor 148 tentang Bangkalan  sebagai kota ”Dzikir dan Sholawat”, maka Peraturan Daerah Inisiatif ini diberi judul ”Perda Wisata Syariah”, Perda nomor 22 Tahun 2013 tentang RPJMD.

Jadi, dengan wisata syariah ini meskipun ada perubahan. Tapi nilai-nilai lama yang baik di masyarakat tidak tergerus oleh perubahan zaman yang terus berubah.

 

Oleh  Mukafi Anwar, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bangkalan Madura