Slametan Tanda Mata Bagi Tuhan Yang Maha Esa

Kebudayaan kita telah mengajarkan begitu banyak kegiatan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dilakukan sejak masa dahulu. Dari mempersembahkan berbagai hasil ternak dan hasil bumi hingga melakukan berbagai ritual pribadi yang berhubungan dengan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Raja-raja masa dahulu sering melakukan persembahan berupa hewan sapi, kerbau dalam jumlah yang cukup besar sebagai persembahan baik kepada leluhur maupun Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan petani dan nelayan melakukan ritual persembahan dengan beraneka ragam hasil bumi sebagai rasa syukur atas hasil panen mereka kepada Leluhur dan Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga dapat dikatakan bahwa ucapan rasa syukur dengan berbagai acara ritualnya bukan monopoli golongan elit saja tetapi juga dilakukan oleh rakyat secara umum.

Kegiatan upacara syukur ini biasa disebut slametan dengan disertai oleh berbagai upacara dan perlengkapannya. Slametan merupakan ritual domestik masyarakat Nusantara yang telah banyak berakulturasi dengan berbagai kebudayaan yang masuk ke Nusantara dalam perkembangannya.

Kegiatan ini merupakan bentuk doa bersama yang diakhiri dengan makan bersama keluarga ataupun masyarakat yang terlibat dalam acara slametan ini. Berbagai hidangan makan disajikan dalam acara slametan ini tetapi tentunya ada makanan utama bagi kegiatan ini yaitu berupa Nasi Tumpeng beserta ubo rampenya. Sebuah nasi yang dibentuk kerucut seperti gunung melambangkan tempat keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.

Slametan ini mengiringi siklus hidup masyarakat Nusantara dari masa lahir hingga kematian bahkan setelah kematian ritual slametan tetap dilakukan oleh anggota keluarganya yang masih hidup. Ragam cara mengiringi prosesi siklus hidup ini dengan satu tujuan keselamatan dalam mengarungi kehidupan. Ritual slametan rupanya tidak hanya berkaitan dengan siklus hidup manusia semata tetapi juga yang berhubungan dengan berbagai aktifitas masyarakat lain seperti pembangunan berbagai gedung, jalan, jembatan dan berbagai hal guna memperoleh keselamatan bagi pembangunan itu sendiri.

Pada masa Kolonial Belanda dahulu slametan juga merupakan kegiatan yang menyertai masyarakat di Nusantara baik yang dilakukan oleh golongan priyayi maupun wong cilik. Bahkan foto-foto masa kolonial juga menunjukkan, slametan diadakan oleh perusahaan-perusahaan milik orang Eropa, dengan hidangan nasi tetapi minuman yang disajikan telah dikemas dalam sebuah botol kemungkinan adalah minuman limun. Slametan juga dilakukan dalam acara Maulid Nabi Muhammad di Banten tahun 1920 yang dihadiri oleh berbagai masyarakat. Berbagai pabrik gula seperti pabrik gula Watoetoelis Sidoardjo, Tasikmadoe Surakarta dan perusahaan kereta api pada masa kolonial juga melakukan ritual slametan yang diikuti oleh para pegawai mereka.

Hingga sekarang ritual slametan masih dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat walaupun sebagian juga sudah ada yang mulai meninggalkan ritual ini dalam siklus hidup mereka. Tetapi, dilakukan atau pun ditinggalkan, esensi dari slametan yang merupakan bentuk doa atas rasa syukur tehadap Tuhan Yang Maha Esa dapat dikatakan merupakan suatu ritual yang dinamis yang menunjukkan ingatan akan leluhur, Tuhan Yang Maha Esa dan juga rasa sosial terhadap masyarakat sekitar.

Selain itu bahwa slametan begitu memperkaya khasanah budaya Nusantara. Semoga acara selametan ini tidak semakin menghilang. (*)

Sumber http://phesolo.wordpress.com/2012/03/20/slametan-tanda-mata-bagi-tuhan-yang-maha-esa/