Pabrik gula modern Glenmore Banyuwangi buka giling perdana

 Laporan Kontributor Koranfakta.net Dafid Firman Syah

KORANFAKTA.NET, Banyuwangi – Rini Soemarno, Menteri  Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyaksikan giling tebu perdana PT Industri Gula Glenmore (IGG)  di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Selasa siang (2/8/2016).

Ketika meninjau area pabrik gula, Rini Soemarno  merasa bangga mengingat pembangunan pabrik gula modern ini dikerjakan oleh putra-putri terbaik bangsa Indonesia.

rini glenre“Pabrik Gula Glenmore adalah pabrik gula termodern yang dimiliki BUMN saat ini. Saya berharap setelah penggilingan perdana ini semua aktipitas pabrik gula akan berjalan normal. Ke depannya beberapa pabrik gula milik BUMN lainnya bisa modern seperti Glenmore, termasuk juga pabrik gula di Asembagus, Semboro dan Gempol Kerep,” tutur Rini.

Rini menambahkan, agar para petani terus menjaga semangat menanam tebu, karena petani tebu adalah ujung tombak industri gula.

“Petani tebu adalah ujung tombak industri gula, tanpa petani pabrik gula akan mati. Tanah di Banyuwangi bagus ditanami tebu, untuk itu para petani diminta terus menjaga semangat menanam tebu” jelasnya

“Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) sebagai organisasi kemasyarakatan yang mewadahi pelaku usaha dan petani tebu di Indonesia menilai  bahwa letak geografis Kabupaten Banyuwangi potensial untuk tanaman tebu,” tambahnya.

HM Arum Sabil Ketua APTRI mengatakan, pembangunan pabrik gula dan perkebunan tebu di Banyuwangi akan menggerakkan ekonomi masyarakat, asalkan varietas tebu dan masa tanamnya tepat.

“ Produktifitas tanaman tebu di Banyuwangi rata-rata mencapai 100 ton per hektar, bahkan bisa lebih. Contoh konkritnya, saat ujicoba tanam tebu di wilayah Genteng seluas 50 hektar bisa menghasilkan 100 ton tebu per hektar,” jelasnya.

Arum Sabil menuturkan, area lahan tanaman tebu berada di wilayah Banyuwangi Barat yang merupakan lahan hak guna usaha (HGU).  Ada kondisi terkadang para petani enggan menanam tebu akibat hasil rendemen tebu menurun sehingga petani menderita kerugian.

“Petani sering merugi, dengan hasil rendemen berkisar 6-7 persen saat ini, petani tebu banyak mengeluh pendapatannya menurun apalagi ditambah curah hujan yang masih cukup tinggi beberapa waktu ini. Ini terjadi hampir di seluruh Jawa,” tuturnya sedih.

HM Arum Sabil merasakan petani tebu saat ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, karena disamping hasil rendemen tebu turun, harga lelang gula juga ikut turun, biasanya harga berkisar Rp14.000,- sekarang menjadi Rp 12,000,- katanya. (*)