Home Ekobisnis Waspadai, pakaian impor bekas mengandung bakteri

Waspadai, pakaian impor bekas mengandung bakteri

568
0
SHARE

KORANFAKTA.NET, JAKARTA – Setelah dilakukan uji laboratorium dengan parameter mikro biologi terhadap pakaian bekas impor yang diperjualbelikan, Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa pakaian-pakaian impor tersebut mengandung bakteri dan jamur.

“Kita mengambil sampel dari pakaian yang diduga eks-impor, dan dari hasil uji laboratorium semuanya mengandung bakteri dan jamur,” kata Direktur Jenderal Standarisasi dan Perlindungan Konsumen (SPK) Kementerian Perdagangan, Widodo, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.

Pakaian impor bekas/ilustrasi
Pakaian impor bekas/ilustrasi

Widodo mengatakan, Kementerian Perdagangan mengambil sampel uji laboratorium tersebut sudah sejak Desember 2014 lalu, dan membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan untuk mengetahui hasilnya.

“Jika dilihat dari kasat mata, sesungguhnya pakaian impor bekas tersebut sudah tidak layak pakai. Kandungan mikroba tertinggi dari satu sampel memiliki nilai total sebesar 216.000 koloni per gram dan kapang sebesar 36.000 koloni per gram,” ujar Widodo.

Widodo menjelaskan, pengujian dilakukan terhadap 25 sampel pakaian bekas beredar di pasar, yang salah satunya diambil dari Pasar Senen, Jakarta, dari beberapa jenis pakaian seperti pakaian anak, pakaian wanita, dan juga pakaian pria.

Menurut Widodo, dengan adanya temuan bahwa pakaian impor bekas tersebut mengandung bakteri dan jamur tersebut, maka jika digunakan akan menyebabkan gangguan pencernaan, gatal-gatal, dan infeksi pada saluran kelamin.

Timbulnya penyakit tersebut bisa berawal dari kontak langsung dengan kulit atau ditransmisikan oleh tangan manusia yang pada akhirnya membawa infeksi masuk melalui mulut, hidung, dan mata.

“Semua pakaian bekas yang diimpor itu adalah ilegal, kami tegaskan, impor hanya boleh dilakukan untuk barang baru saja,” ujar Widodo seperti dikutip Antara

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan, impor barang harus dalam keadaan baru. Sementara untuk pakaian bekas, Kementerian Perdagangan telah melarang importasinya melalui Kepmenperindag No. 230/MPP/Kep/7/1977 tentang Barang yang Diatur Tata Niaga Impornya.

Selain itu juga melalui Kepmenperindag No. 642/MPP/Kep/9/2002 tentang Perubahan Lampiran I Kepmenperindag No. 230/MPP/Kep/7/1977 tentang Barang yang Diatur Tata Niaga Impornya.

Namun berdasarkan Undang-Undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, menyebutkan bahwa barang bekas boleh diperjualbelikan dengan catatan penjual wajib menyebutkan bahwa barang yang dijual tersebut adalah barang bekas.

Sementara itu dari pantauan Koranfakta.net di sentra pakaian impor bekas Gringging, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri, Jawa Timur puluhan pedagang pakaian impor bekas masih menggelar dagangannya di sepanjang kiri-kanan jalan.

Aris, seorang pedagang pakaian impor bekas mengatakan, faktor harga yang terjangkau menjadi alasan kenapa masyarakat masih meminati pakaian ini.

“Harganya terjangkau dan kualitas pakaian masih layak pakai,” ungkapnya sambil mengawasi pembeli yang memilah-milah jaket jeans pria.

Ketika disinggung pakaian impor bekas terindikasi mengandung bakteri berbahaya, ia menyatakan  tidak tahu, “Wah saya tidak mengetahui hal tersebut, kita dapat barang ini juga dari pedagang grosir.” pungkasnya. (ant/ss/abu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × three =