Home Tokoh Syafii Maarif: Islam Hormati Adat Istiadat

Syafii Maarif: Islam Hormati Adat Istiadat

579
0
SHARE

Islam mengajarkan manusia menghormati adat istiadat. Perbedaan adat dalam menjalankan agama tidak mesti dipersoalkan sepanjang masih dalam koridor ketauhidan.

“Islam dari sisi pesan universal, namun jika masuk kedalam lingkaran budaya akan ada Islam Nigeria, Islam Sulawesi, Islam Pacitan, Islam Gunung Kidul dan itu sah saja selama bingkai tauhid monoteisme,” kata tokoh Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif saat acara diskusi peluncuran bukunya Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan, Selasa (14/4) malam.

Ahmad Syafii Maarif/Rep
Ahmad Syafii Maarif/Rep

Syafii mengatakan, Rasulullah Muhammad SAW bersabda agar umat Islam bersikap khadah muhakamah, yakni menghormati adat istiadat. Ajaran Rasulullah itu, menurutnya, sama seperti ajaran Islam di dalam Alquran. “Seperti ayat Al quran yang turun di Makkah, Allah SWT satu, tetapi juga ada pesan kemanusiaan,” ujarnya.

Di mata Syafii, perbedaan agama dan cara penyembahan merupakan takdir Allah. Hal ini, menurutnya, sebagaimana firman Allah SWT di dalam Alquran surah Yunus ayat 99, “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semua?” Syafii mengatakan, ayat tersebut menguatkan pengakuan Islam terhadap eksistensi keragaman suku, bangsa, agama, bahasa, dan sejarah.

Dalam ajaran Islam, tidak ada paksaan dalam berkeyakinan. Setiap individu maupun kelompok berhak menjalankan agama sesuai keyakinan. Sebab, sejatinya beragama mesti berangkat dari kesadaran bukan paksaan. “Kalau mereka tidak mau beriman, jangan dipaksa meskipun beriman itu baik,” kata Syafii.

Meski dalam Islam terdapat anjuran perang, hakikatnya Islam sangat mencintai kedamaian. Syafii mengatakan, anjuran perang dalam Islam hanya dapat dilakukan dalam keadaan khusus. Selain itu, Islam juga mengajarkan semangat egalitarianisme. Sebab, kemuliaan manusia hanya diukur dari tingkat ketakwaan, bukan warna suku atau ras.

Syafii mengatakan, salah satu kesuksesan penyebaran Islam di Indonesia adalah karena penghormatan terhadap akulturasi budaya. Sehingga, imbuhnya, banyak masyarakat nusantara yang mau memeluk Islam tanpa paksaan.

Syafii Maarif menjelaskan bahwa esensi ajaran tauhid, selain mengajarkan tentang nilai-nilai ketuhanan, juga mengirimkan pesan kemanusiaan. Menurutnya, orang Islam yang tidak manusiawi, tidak berbuat baik dengan sesama manusia, jahat dan keras terhadap sesama manusia walaupun berbeda keyakinan bukanlah orang yang bertauhid.

Buya Syafii juga menjelaskan, Islam lahir dan berkembang sepenuhnya dalam darah dan daging sejarah, tidak dalam kevakuman budaya.

Sebagai agama sejarah, Islam telah, sedang, dan akan terus bergumul dengan lingkungan yang senantiasa berubah. Namun, seringkali Islam diasingkan dari persentuhan dengan fakta budaya dan sosial. Akibatnya, Islam menjadi ahistoris dan gamang menghadapi perubahan dan gagal mengembangkan misinya menuntun peradaban.

Peluncuran buku Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan merupakan salah satu rangkaian acara dari peringatan 80 tahun Ahmad Syafii Maarif yang jatuh pada 31 Mei. Acara peluncuran dihadiri sejumlah tokoh, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Zulkifli Hasan, Ketua Apindo Sofjan Wanandi, Johan Efendi, Frans Magnis Suseno. 

 

Sumber : ROL | Redaktur : Agus Budiono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

10 − four =