Ibu Jadi TKI, Jutaan Anak Kehilangan Hak Asuh

Pertumbuhan Fisik dan Kemampuan Anak Terhambat

Jutaan anak usia dini yang ibunya menjadi tenaga kerja wanita atau TKW di luar negeri kehilangan hak asuh dari ibunya. Kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang dari ”guru pertama” itu tidak mereka rasakan sehingga berakibat buruk bagi tumbuh kembang mereka.

Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Fasli Jalal menyebutkan, dari sekitar 30 juta anak di bawah usia 6 tahun di Indonesia, sekitar 70 persen atau 21 juta anak tidak mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD). Dari jumlah itu, anak-anak yang ibunya menjadi TKW atau tenaga kerja Indonesia (TKI) sekitar 1,5 juta anak di sejumlah daerah.

hak asuh vemalecom”Pandangan para ibu bahwa lebih baik meninggalkan anaknya ketika masih kecil adalah pandangan keliru,” ujar Munifah Bahfen dan Tiara Astari Tarihoran, mahasiswa Program Pascasarjana PAUD Universitas Negeri Jakarta, yang meneliti dampak buruk bagi anak yang ibunya menjadi TKI. Pandangan itu disampaikan dalam seminar internasional bertema ”Pendidikan Holistik Integratif bagi Anak” di Jakarta, Sabtu (9/11), seperti dikutip Kompas.

Penelitian itu mereka lakukan di Desa Penyingkiran, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Terungkap, akibat ditinggal ibu, banyak anak mengalami keterlambatan pertumbuhan secara fisik dan perkembangan kemampuan. Di usia seperti itu, ayah anak atau pengasuh lainnya tidak bisa menggantikan peran ibu.

”Banyak anak-anak yang tidak bisa membaca meskipun sudah duduk di bangku kelas IV sekolah dasar. Lalu, tidak kreatif dan cenderung tertutup, pemalu, dikucilkan, dan hilang kepercayaan diri dibandingkan dengan anak- anak lain,” ucap Munifah.

Dulunya lumbung padi

Persepsi yang berkembang di kalangan anak-anak remaja saat ini adalah TKI menjadi cita-cita. Tidak banyak yang ingin melanjutkan pendidikan karena TKI langkah praktis mendapat pekerjaan.

Ironisnya, wilayah itu dulunya lumbung padi Indonesia dan kini menjadi lumbung pengirim TKI. ”Mereka terpaksa jadi TKI karena kalah bersaing dari kualitas sumber daya manusia. Tenaga kerja yang terserap di Karawang adalah pendatang,” ujar Tiara.

Kedua peneliti tersebut meminta komunitas pengirim TKI agar tidak merekomendasikan ibu-ibu yang anaknya masih berusia dini untuk menjadi TKI. Jika terpaksa, harus sudah dipastikan anak-anak itu diasuh oleh orang yang berpengalaman dan memiliki kompetensi.

Fasli meminta kepala daerah kabupaten atau kota yang menyumbang banyak tenaga kerja ke luar negeri agar memperhatikan juga pendidikan anak-anak TKI. ”Pemda harus menyiapkan tempat belajar yang terjangkau bagi anak-anak itu,” ujarnya.

Rektor Universitas Negeri Jakarta Bedjo Sujanto mengatakan, perguruan tinggi harus mengambil peran untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Misalnya, melakukan penelitian dan mencarikan solusinya.

”Hasilnya akan direkomendasikan kepada pemerintah. Selain itu, juga melakukan kegiatan pengabdian masyarakat berupa pendampingan kepada komunitas anak-anak usia dini,” kata Bedjo. 

Editor: Ambar Ristanto